Grand Prix Adenium dan ELO Rating – 2

October 28, 2008 at 11:08 pm | Posted in Artikel, Kontes dan Pameran | 5 Comments
Tags: ,

Grand Prix Adenium dan ELO Rating – 2

Kepandaian dalam konteks lomba sebenarnya adalah gambaran kekuatan seseorang untuk memenangi lomba. Artinya semakin pandai seseorang HARUSnya semakin besar peluangnya menang lomba.  Wis mesti wae kebanggaan bagi yang menyandangnya.
Si A dikenal sering juara I, demikian pula B dan C. Siapa lebih pandai ? Karena sering juara I, gampang disimpulkan ketiganya punya kepandaian seimbang. Bagaimna kalau dipertemukan langsung dalam satu ajang lomba, biar kelihatan jelas, siapa yang lebih bodho ?

Kasus I :

Hasil lomba A (juara I), B (juara (II), dan C (juara III). Gampang diterka si A > (‘lebih pinter dari’) B > C. Si C ndak puas, minta ketemu tanding ulang di lomba yang lain.

Hasil lomba lain, juara I = C, juara II = B, juara = A. Kesimpulan: C > B > A.

Giliran si B yang ndak puas, minta tanding ulang …….  (mungkin kesimpulan akhir malah menjurus pada A, B, dan C saling ‘rebutan bodho’). Betul, semakin banyak lomba yang mempertemukan ke tiganya, akan diperoleh kesimpulan ‘lebih akurat. Persoalannya, apakah hanya untuk tahu itu mesti nunggu 1000 lomba (biar akurat) – lagian apa mungkin ke tiganya bisa disatukan dalam arena yang sama terus2an ?

Ada ide jalan keluar yang diusulkan – nilai kepandaian dinyataken dengan angka, supaya gambarannya gampang. Juara I berhak dapat poin 10, juara II = 7, juara III= 5, masuk 10 besar = 1 (atau dengan besaran lainnya berdasarkan jumlah nilai penjurian, misalnya). Yang punya nilai kumulatip lebih tinggi otomatis lebih pinter. Kita sebut saja metode ini sebagai metode X . Ok, terjawab sudah

Kasus II :

Karena satu dan lain hal, ketiganya sulit dipertemukan dalam ajang yang sama. Atau kalau pun ketemu, cumak diantara dua individu saja, entah si A dan B, B dan C, A dan C. Ndak pernah bisa A, B, dan C bareng2. Ketiganya aktip lomba di tempat terpisah dan masing2 individu sering juara.

Metode X, bisa memecahkan masalah ukuran kepandaian. Cumak kaluk ada yang protes : ah … si A dapat juara karena lawan2nya ecek2, cobak kaluk ikut turnamenku kemarin – pasti 10 besar aja ndak masuk.

Harus ada cara etungan baru menjawab keluhan tsb. Harus ada rumusan baru. ELO rating mencoba melengkapi kelemahan metode X. Kepandaian (kekuatan), selain ditentukan dari ‘menang – kalah’, juga diukur dari ‘siapa yang dikalahken, siapa yang dimenangi’.

Rumus dasar ELO rating :  Rn = Ro + K (Wa – We)

Rn   =  rating baru (new)

Ro   =  rating lama sebelum berlomba (old)

K     =  nilai koefisien pembobotan

Wa  =  kenyataan hasil lomba (aktual)

We  =  seharusnya hasil lomba dari pemegang rating tertentu (ekspektasi)

Catatan : ELO rating pada dasarnya BEST GUESS kekuatan seseorang. Ini  adalah etungan statistik yang diturunken dari operasi  aljabar. Sementara ndak usah kita bahas dulu dari mana asal rumusan. Pokoke ‘tiada yang lebih misterius di dunia ini dibanding aljabar’. Jangan takut dulu, semua bisa di otomatisasi pakek komputer.

Waduh …… Karena sudah diampiri, sementara pamit dulu. Kita lanjutken lagi nanti dengan contoh kasus.

Ganggeng Kanyoet

Gongli memang me lik, apalagi disu@#ni, pasti  hauw ……. ho ho ho ho, Suki lewat …

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Mas Ganggeng Kanyoet, tolong minta masukan nih..

    Contoh Kasus Misal : Adenium Pemenang Kontes milik A tetapi yang merawat dan mentraining sehari-hari supaya menjadi bagus adalah B dan C, nanti yang berhak menyandang gelar siapa ya…?
    Bisa ndak kalau yang menyandang gelas A, berarti B dan C bisa menciptakan banyak A.

    Salam Erat

  2. Kamsia Mbah usulnya, sangat menarik.

    Direncanakan pada tahun pertama ( Tahun 2009 ) akan dilaksanakan sistem point terlebih dahulu ( kasus I )
    10 besar mendapat point terbalik, peringkat1 = 10 point, peringkat 2 = 9 point dst, seperti dilakukan pada grand prix formula 1.
    Sistem Elo Rating yang diusulkan sangat menarik Mbah, kalau tahun pertama sukses, sistem elo rating selayaknya bisa melengkapi sistem point, dan kalau memang para penggemar mendukung tentu segera bisa dipakai tahun berikutnya.

    Saat ini yang paling sulit adalah mengajak beberapa daerah mau menjadi tuan rumah grand prix, banyak yang mau tapi ngeri melihat anggaran yang dibutuhkan mengingat kondisi pasar tanaman hias saat ini.
    Seandainya ada salah satu perusahaan besar yang mau menjadi sponsor dan menanggung sebagian hadiahnya…wooow alangkah senang dan ringannya tugas ini.

    Mohon didoakan di Tanah suci yo Mbah, juga mohon doa restu seluruh penggemar.
    Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti, misalkan mau mengirimkan tanamannya sebagai peserta tanpa harus mempertimbangkan kalah – menang dahulu, Nursery2 mau menjadi peserta bursa di event2 Grand prix, menyumbang saran, mencarikan pengusaha / perusahaan2 besar yang mau peduli dan mau ikut menjadi sponsor, menyumbang seribu dua ribu rupiah untuk mewujudkan event besar nanti dll.
    Yang jelas, tanpa mendapatkan dukungan dari semua penggemar adenium, Grand Prix 2009 akan sulit terwujud dengan baik.

    Xie xie

    Hartono

  3. IMHO, kaluk menerapkan konsep padi, makin berisi makin merunduk.
    kepuasan sejati adalah saat tanamannya yang menjadi juara.
    salam,
    &
    * yang suka pecicilan bawa motor dijalan biasanya anak yang baru belajar naik motor atau baru punya motor.

  4. Tolong jugak dikasih masukan balik: meski dirawat B dan C tapi ndak pernah diajukan ke meja lomba oleh A – apakah adenium tersebut bisa JUARA ?

    Saya sering ditanyak yang seperti itu. Dikiranya yang disebut ngrawat itu mangsudnya semuanya dikerjakan sendiri. Yah … biasalah golongan ekonomi lemah sulit mbayangkan, bahwa ngrawat itu caranya bisa cukup dengan suruhan orang.
    Rumah saya tak pelihara dan tak rawat dengan baik, tapi saya ndak pernah mau nyapu, ngepel, ngecat ato ngganti genteng bocor. Cukup suruhan orang saja …….. buk-ren dan kong- ren saya ndak pernah ngaku bisa menciptaken saya yang rumahnya terawat.
    Kalukpun di luaran dia ngaku2 begitu….. ah itu cumak cara dia menyatakan betapa bangga dan bahagianya bisa bekerja ikut saya (istilah kasarnya nebeng terkenal). Biarin saja – yo wis ben – karena memang hanya itu kebanggaannya. Kita purak2 ndak denger, kasihan …
    Lha wong pas ngelap mobil saja, saat temannya lewat – dia bisa menggaya bak mobil itu miliknya ….. yang cerdas tentu bisa mengataken .. ekonomi lemah ayak2 wae

    Mr. Sarwo kaluk service mobil ke mana ? Kaluk ndak dikerjakan sendiri berarti ndak bisa ngerawat mobil …… ho ho ho ho ho.

    Benang merah : ada yang dengan bangga ngaku tukang cukurnya SBY, meski itu sebenare cumak BAGIAN dari kegiatan SBY memelihara dan merawat diri. Lebih aneh lagi si tukang cukur berlagak laksana SBY sendiri …..

    Ganggeng Kanyoet
    Ilmu padi : terlalu merunduk malah kenak comberan, rebah ndak bisa dipanen

  5. Pasti saya turut berdoa untuk keberlanjutan dan kesuksesan Grand Prix Adenium.
    Terimakasih juga dua kali telah menyelamatkan saya (save by the bell). Baru inget kaluk ndak ada 2 minggu lagi harus pamit – pasti ndak cukup waktu buat ngomong panjang lebarnya. Daripada mandeg yang bikin kagol, lain kali bisa dibuka lagi.

    Saya kadang juga gumun, knapa pabrik pupuk dan saprotan jarang yang mau jadi sponsor? Kebanyakan malah pabrik rokok dan motor. Tapi ya cumak sampai sekedar gumun saja, belum nemuken jalan keluar …… ho ho ho ho.

    Semoga sukses. …… cha-yook … semangat

    Ganggeng Kanyoet


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: