“It’s My Way”

October 15, 2008 at 9:28 am | Posted in Artikel | Leave a comment

“It’s My Way”
Ganggeng Kanyoet

Kebetulan 4 hari setelah lebaran, ada acara kumpul2 saat 100 hari wafatnya Mr. Boma – mantan Dekan Fakultas Teknik UGM. Ada banyak hadir sahabat2 ilmuwan murni dari MIPA, Insinyur (tentu saja) dan golongan saya – ekonomi lemah. Ada diskusi kecil tentang tokoh perubah jaman. Yang intinya :

Ilmuwan : orangnya pengin tahu sebab-akibat kejadian di alam. Kaluk ditanya untuk apa semua itu ? – jawabnya ‘just tahu’ dan ngerti aturan yang berlaku. Mereka rajin mengamati hal2 baru, pinter (pasti), suka bereksperimen setelah paham konsep dasarnya dulu – membuktiken benar tidaknya hipotesanya. Ada urutan langkah standar dalam eksperimennya. Biaya ndak masalah ‘asal bisa tahu dan ngerti’.

Setelah berhasil tahu, ya sudah .. pengetahuan itu dipakainya untuk pijakan mencari tahu yang selanjutnya. Gumaman khas dia saat radas percobaan selesai disusun: ‘mari kita liat bagaimana cara kerjanya’. Sekolahan untuk tokoh2 semacam ini sudah ada sejak 300 SM di Iskandariah.
Insinyur : orangnya serba praktis, enterpreneur. Kaluk ditanya untuk apa semua itu ? – jawabnya ‘menciptakan/menemukan’ cara termudah dan paling efisien dalam melakukan sesuatu. Mereka suka dan rajin mencoba hal2 baru, smart, ulet. Dasar2 percobaannya ‘ndak ada’, yang penting nyoba dulu karena ndak ada waktu buat belajar apalagi mikir teori – ndak ada urutan baku. Kegagalan dan keuletan adalah agamannya. Gumaman khas insinyur saat radas eksperimen selesai disusun :’mari kita liat kenapa kok ndak bisa kerja dan mari kita perbaiki lagi’. Bagi mereka ‘faktor biaya’ adalah penting sekali – buat apa mbikin piranti atau cara baru kaluk ndak bisa benilai lebih ekonomis dari ‘cara’ yang sudah ada sebelumnya ? Efisiensi adalah kiblatnya. – kaluk ndak efisien kan ndak laku dijual 

Menjelang abad 18 ada kemajuan, mereka mulai nyatat kegagalan dan keberhasilan terdahulu buat ‘buku pegangan’ percobaan2 berikut. Mereka mulai cari tahu percobaan2 terdahulu di luar bengkelnya, mereka mulai pakai matematika untuk memperkecil kegagalan dan untuk membuat model.
Abad 19 mulai ada sekolah insinyur atau institute di Amerika. Pada mereka mulai dibelajarkan urutan baku dalam bereksperimen, teori dijejalkan untuk membuka wawasan dan khasanah, cara membuat model. Intinya supaya arah percobaan mereka mapan, minimalisir kegagalan, lebih cepet tahu yang terbaru, hasilnya semakin praktis, dan yang lebih penting lagi – supaya bisa membuat model agar biaya percobaan dapat ditekan lagi.

Ekonom : mereka adalah ‘tumpuan’ penjualan produk gagal insinyur. …. ho ho ho. Bagi dia yang penting bisa jual lebih mahal dari kulakannya. Meski sudah diperingatken insinyur bahwa ini ndak efisien, boros, kurang laik. Dengan dijawab : Ah lu tinggal kasih cerita dikit aja cara kerjanya ke aku, biarlah nanti pakai bahasaku (yi. HARAPAN) untuk membungkusnya. Masuk akal atau ndak – emang semua konsumen pinter dan peduli ? Coan adalah pelita hidupnya. ‘Bien i’ atau ndak, itu kan cumak masalah angka . …..kaluk kemahalan – gampang jual kredit aja to, yang penting etungan ‘li sit’ nya jelas … ho ho

Dari semua itu, masalah LUCKY jelas ada menyertai. Cumak kaluk ‘wahyu luki’ itu kebetulan melintas, ndak ada artinya kaluk ndak siap nangkep. Gumamnya jelas : ‘Opo he yang barusan lewat ?’
Dasar pengetahuan teori dari cerita di atas jelas penting guna nambah wawasan dan probabilitas nangkep peluang. Ingat jaman ‘nabi dan rasul’ sudah berakhir, mahkluk yang masih nunggu dan cumak bersimpuh agar ‘mak-bedunduk’ dapat lucky sudah tutup pendaftarannya.

Lagian mana bisa ngerti itu sebuah lucky kalu ngerti dasar2nya saja ndak … Akhirnya gampang percaya penyakit dibilang mutasi oleh si ‘tumpuan’ insinyur itu tadi. Yang tahu ‘lucky’ dan siap se-siap2nya bisa mbikin bunga tumpuk macem2, kita kembali cumak bisa ngomong – kok bisa ya ? Piye carane ? Ah sekarang tak nyoba … lha wong yang laen bisa, ‘mari kita cari tahu kenapa ndak bisa kerja dan mari kita coba lagi, coba lagi …’ mudah2an ndak keburu bosan dan nyerah – mending tuku wae … ho ho ho.

Ganggeng Kanyoet

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: