Adenium Diantara Bunga dan Bentuk

November 22, 2007 at 11:35 pm | Posted in Artikel | 1 Comment

Curhat Adenium
oleh Destika Cahyana destika_cahyana@yahoo.com

Semoga tak ganggu.

Berikut coretan bebas. Pernah dimuat di sebuah tabloid di Jawa Timur dengan nama pena Hanif Ahmad.

Salam,

Adenium
Diantara Bunga dan Bentuk

Seorang teman kuliah, Dede Maria, yang kini tinggal di New York City pernah bertanya tentang adenium. “Ini pohon apa? Kok gede-gede dan serem banget. Tapi, ada juga yang cantik,” katanya. Pertanyaan itu terlontar lewat Yahoo! Messenger kala Dede membuka-buka halaman Google nun jauh di seberang sana.

Keheranan Dede menyaksikan sosok Adenium obesum dan Adenium arabicum itu seolah mewakili pikiran di benak orang awam ketika melihat adenium tanpa bunga pertamakali. “Aneh, besar, seram, tapi cantik.” Andai Dede membuka Google lebih jauh, ia bakal terpesona menyaksikan keindahan bunga mawar gurun—sebutannya di mancanegara. Kelopak bunga berwarna merah, putih, hingga kombinasi keduanya sangat memikat.

***

Prolog di atas hanya ingin menegaskan keyakinan saya tentang daya tarik si mawar gurun. Adenium ialah sebuah tanaman yang fenomenal. Ia menggebrak belantara tanaman hias Indonesia sejak 5 tahun terakhir. Lalu menempati posisi terhormat—sejajar dengan anggrek—karena popularitasnya menjangkau lapisan atas hingga bawah. Posisi terhormat itu direbut adenium sejak 2 tahun belakangan.

“Adenium sudah seperti anggrek. Ia sudah diterima masyarakat tanahair. Ia masuk indonesia idol. Karena itu bisnisnya tak akan pernah mati,” kata Frans, sahabat sekaligus narasumber tanaman hias ternama di Semarang. Yang disebut indonesia idol berturut-turut anggrek, adenium, aglaonema, eufhorbia, dan anthurium.

Meski berada diurutan ketiga, adenium punya kelebihan yang tak dimiliki oleh 4 rekan-rekannya. “Semua bagian tanaman dapat dinikmati keindahannya. Mulai bunga, daun, cabang, batang, sampai akar. Apalagi setelah dibentuk,” kata Aris Budiman, pemilik nurseri Watuputih di Yogyakarta. Bandingkan dengan anggrek dan eufhorbia yang hanya dinikmati keindahan bunganya. Pun aglaonema hanya disukai karena kecantikan daunnya.

Karena seluruh ornamen pembentuk tanaman memunculkan keindahan masing-masing maka hobiis yang menyukai sangat beragam. Baik dari jenis kelamin maupun latar belakang profesi. Sebut saja ibu-ibu dan remaja puteri yang menyukai anggrek, mereka tergoda mengkoleksi adenium karena kecantikan bunganya.

Pun bapak-bapak yang gandrung bentuk tanaman indah—seperti bonsai—banyak yang kepincut dengan umbi dan batangnya. Harga yang bervariasi mulai Rp35-ribu—Rp100-juta pun membuat semua kalangan bisa mengoleksi. Tentu disesuaikan dengan ukuran kantong masing-masing.

Pemicu lain yang turut membuat pamor adenium naik daun ialah maraknya kontes yang digelar. “Sejak pertengahan 2006 hingga sekarang hampir setiap bulan digelar kontes adenium di berbagai kota. Terutama di Jawa Timur,” kata Andy Solvianto Fajar, salah satu juri kesohor adenium. Namun, jangan salah, Tangerang yang letaknya di Pulau Jawa bagian barat malah memecahkan rekor peserta kontes. Sebanyak 245 peserta kontes dari Jawa—Bali hadir di kontes Metropolis Tangerang April silam. Lazimnya peserta di kisaran 80—200 peserta.

Uniknya, lomba digelar dengan membagi banyak kategori—seperti bunga kompak, total performance, arabicum, utama non bunga, dan prospek—sehingga baik peminat bunga maupun peminat bentuk terwadahi. Itu karena saya membagi hobiis adenium ke dalam 2 kategori besar: peminat bunga dan peminat bentuk.

***

Saya jadi teringat kata-kata seorang teman di Batu, Malang. A Gembong Kartiko pernah berkata, bagi pemain dan peminat tanaman hias, maka tanaman hias—termasuk adenium—bisa menjadi sebuah bentuk “keimanan” tersendiri. Sulit untuk menjelaskan hal tersebut. Namun, untuk memudahkan, saya akan menganalogikan dengan sepakbola. Banyak kalangan menganggap sepakbola sebagai “agama” bagi sebagian orang yang tergila-gila si bola bundar.

Pada adenium bentuk “keimanan” pun lalu terbagi dua: peminat bunga dan peminat bentuk. Seorang pemain besar adenium di Jawa Tengah yang berkonsentrasi pada bunga pernah mencemooh maraknya kontes di Jawa Timur dan Tangerang. “Seperti tak ada kerjaan. Tak jelas juntrungannya,” katanya. Padahal, saya tahu pasti ia pun salah seorang juri berbagai tanaman hias seperti adenium bunga (dulu sekali, red), aglaonema, dan anthurium.

Bagi saya, penyelenggaraan kontes tanaman hias apapun berpengaruh positif bagi perkembangan tanaman tersebut. Bagi pekebun dan pemilik nurseri akan melihat perkembangan kualitas tanaman hias dari waktu ke waktu. Bagi khalayak umum akan menjadi tontonan menarik, lalu mendorong mereka untuk mengoleksi. Bila itu terjadi maka peminat tanaman hias—temasuk adenium—bertambah. Hasilnya, pekebun dan pemilik nurseri dengan jutaan tenaga kerja didalamnya memperoleh pendapatan yang layak.

Jadi, menurut saya, mencintai adenium karena keindahan bunga ataupun bentuk bukanlah sebuah perbedaan yang mesti dibentrokkan. Seperti menyukai seorang wanita, tak ada salahnya kita menyukai gadis karena bola mata yang bening. Pun tak keliru kita tertarik karena wanita itu berambut hitam panjang. Yang menjadi masalah ialah, bila penyuka bola mata mengejek pencita rambut panjang.

Karena itu bagi yang menyukai bunga adenium, cintailah keindahan mahkota bunganya. Pun yang tertarik pada keindahan bentuk, buatlah adenium seindah mungkin. Maka jayalah adenium Indonesia.

Hanif Ahmad
April 2007

About these ads

1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. paragrap 13 “dibentrokkan”:akhirnya jebol juga keindahan tulisanmu.Aku merasa tulisan kamu jadi antiklimaks


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries and comments feeds.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: